Santi Nurmalahayati

Guru Bimbingan Konseling di SMAN 15 Surabaya. Baru menelurkan satu buku berjudul Guru (Harus) Ke Luar Negeri! yang ditulis berdasarkan pengalaman mengikuti pela...

Selengkapnya
MENGIKUTI SELEKSI PERTUKARAN GURU INDONESIA-KOREA (1)
Bersama sebagian peserta seleksi Exchange Teacher asal Surabaya

MENGIKUTI SELEKSI PERTUKARAN GURU INDONESIA-KOREA (1)

Sebuah undangan mengikuti seleksi pertukaran guru Indonesia-Korea dari Dirjen GTK di awal tahun 2018 cukup menarik perhatian saya. Empat tahun berlalu dari kesempatan terakhir mengikuti pelatihan di Korea. Sudah waktunya saya mencoba peruntungan untuk ke luar negeri gratis lagi. Tahun ini, ada 7 kota/kabupaten di Indonesia yang menjadi sasaran untuk mengikuti seleksi pertukaran guru ke Korea, yakni Jakarta, Tangerang Selatan, Bekasi, Bogor, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Banyuwangi. Persyaratan pendaftarannya tidak sulit. Kesempatannya terbuka bagi guru sekolah negeri maupun swasta. Berkas yang dikirimkan diantaranya SK CPNS, SK Terakhir (untuk PNS), fotokopi KTP, biodata, bukti skor TOEFL (minimal 450), surat izin dari Dinas Pendidikan, dan sertifikat yang mendukung. Ada juga persyaratan berusia dibawah 45 tahun dan memiliki keterampilan seni dan budaya serta memiliki karakter yang mampu mewakili Indonesia. Untuk kedua syarat terakhir juga perlu mengirimkan berkas yang relevan. Selain syarat diatas, saya juga melampirkan sertifikat Instruktur Nasional Guru Pembelajar, Narasumber Nasional Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan, dan sertifikat lulus dari Teacher Capacity Development Program yang diadakan di Dong Eui University, Busan, Korea Selatan pada tahun 2014. Anggap saja ketiga sertifikat ini mewakili karakter baik saya, yaitu senang belajar. (Ehm..uhuk!)

Persiapan

Pada saat itu, saya hanya perlu mempersiapkan sertifikat TOEFL baru, karena yang saya miliki sudah kadaluwarsa semua. Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan pemberkasan Olimpiade Guru Nasional, saya menyempatkan mengikuti tes TOEFL kembali untuk memenuhi persyaratan diatas. Kebetulan sekali, saya baru saja mendapatkan voucher untuk mengikuti TOEFL Preparation gratis sebanyak 5 pertemuan di salah satu lembaga kursus di Surabaya. Alhamdulillah, hasil tes TOEFL nya lebih dari cukup untuk memenuhi persyaratan. Saat ingin mendaftar pada program ini, saya juga mengajak beberapa teman. Sayangnya beberapa yang saya ajak terganjal pada salah satu syarat. Pada akhirnya, saya mengirimkan berkas ini bersamaan dengan bu Ulin, guru matematika dari sekolah saya, mbak Eva, sesama guru BK dari SMAN 5, dan mbak Heni, guru Bahasa Jerman dari SMAN 5 yang juga pernah mengikuti pelatihan guru di Korea di tahun 2014. Kebetulan sekali, surat pengantar dari Cabang Dinas Pendidikan Kota Surabaya menggabungkan kami berempat, sehingga berkas kami kirimkan bersamaan.

Di awal bulan April, sebuah surat dari Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan masuk email saya. Sebuah undangan untuk mengikuti seleksi pertukaran guru Indonesia-Korea yang akan dilaksanakan di Belleza Suites, Permata Hijau, Jakarta Selatan pada tanggal 25-27 April 2018. Peserta yang diundang sejumlah 41 orang dari 7 kota yang berasal dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK. Seleksi awal berupa seleksi berkas. Dari 124 pelamar, hanya 41 orang yang dipanggil untuk mengikuti seleksi. Dari DKI Jakarta diwakili 8 orang, Tangerang Selatan dan Bogor mengirimkan wakil 6 orang, Semarang 2 orang, Banyuwangi, Bekasi, dan Yogyakarta diwakili 1 orang, dan rombongan Surabaya diwakili oleh 16 orang, termasuk saya, Bu Ulin, Mbak Eva, dan Mbak Heni. Nampaknya biodata dan portofolio merupakan faktor yang cukup diperhitungkan. Meskipun skor TOEFL memenuhi syarat, perlu ditunjang dengan prestasi yang dimiliki. Jika memiliki prestasi yang mumpuni, skor TOEFL cukup untuk melengkapi.

Proses seleksi yang akan dilalui adalah tes tertulis, tes Bahasa inggris, tes keterampilan/seni, dan wawancara. Ketika membaca undangan ini, hati saya sudah ketar-ketir. Meskipun senang karena lolos tahap berkas, saya cukup keder dengan tes ketrampilan/seni. Satu-satunya pengalaman menampilkan seni adalah tari Melayu saat SD, dan sisanya hampir tak pernah bersentuhan dengan seni dan keterampilan. Rasanya ingin mundur saja. Tapi melihat semangat mbak Eva mempersiapkan diri, saya jadi ikut-ikutan bersemangat untuk mengusahakan sesuatu demi bisa menampilkan seni dan keterampilan yang pantas mewakili Indonesia.

Saya membutuhkan waktu cukup lama untuk menentukan mau menampilkan apa saat tes nanti. Kalau mau menari, saya sangat tidak luwes. Mau menampilkan budaya Jawa, rasanya juga tidak terlalu percaya diri. “Wong ngomong Bahasa Jawa saja gak pantas”, kata teman-teman saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengangkat budaya leluhur orangtua saya, dari tanah selatan Sulawesi. Jujur saja, saya sebenarnya juga tidak banyak tahu tentang budaya Bugis atau Makassar, suku asal Mamak dan Bapak saya. Bapak dan mamak tidak banyak memperkenalkan budaya daerah asalnya, dan lebih banyak menanamkan nilai-nilai agama dalam proses pengasuhan. Apalagi sejak lahir hingga dewasa saya menghabiskan waktu di Jakarta. Persinggungan dengan budaya Bugis atau Makassar hanya pada saat pernikahan keluarga saja. Itu pun, tidak banyak yang saya pahami karena saya tidak paham Bahasa Bugis atau Makassar kecuali mandre, nanre, dan tabe’. Pengakuan dosa nih ya, saya bahkan baru tahu bahwa suku Bugis itu berbeda dengan suku Makassar saat saya SMA. Sampai saat ini, saya tidak bisa membedakan yang mana Bahasa Bugis dan yang mana Bahasa Makassar. Makanya saya sering di-bully oleh sepupu dengan bahasa Bugis atau Makassar. Ampun deh..

Awalnya, saya mau menampilkan tarian dari Sulawesi Selatan, Tari Anging Mammiri. Gerakannya tidak terlalu sulit, dan kelihatannya bisa dilatih dalam waktu 2 minggu. Tapi sayangnya, saya tidak berhasil menemukan pelatih tarinya. Lagipula, setelah browsing, saya menemukan tarian tradisonal Korea Buchaechum, yang juga menggunakan kipas seperti tari Anging Mammiri, tapi dengan gerakan yang lebih rancak dan enerjik. Kalau dibandingkan dengan Buchaechum, tari Anging Mammiri jadi terlihat kurang menarik. Akhirnya, saya memutuskan untuk menyanyikan lagunya saja. Kelihatannya cengkoknya masih bisa saya ikuti, daripada harus menyanyi keroncong atau lagu Jawa. Mbak Eva juga berencana menyanyikan lagu keroncong dan membatik. Sebenarnya, biasanya saya agak alergi kalau diminta menyanyi dihadapan banyak orang. Saya cuma berani menyanyi di dapur atau di kamar. Tapi, ya kalau mau berkembang memang harus berani keluar dari zona nyaman. Anggap saja ini uji nyali. Untuk latihan menyanyi, saya meminta tolong kepada Mbak May, istri teman saya yang juga guru seni dan sudah beberapa kali memenangkan lomba keroncong. Kata Mbak May, lagu Anging Mammiri cocok dengan warna suara saya, namun saya harus banyak berlatih pernafasan agar produksi suara saya lebih powerfull. Karena keterbatasan waktu, kami hanya sempat dua kali latihan. Untungnya, Mbak May juga bersedia menyiapkan musiknya yang telah disesuaikan dengan nada suara kami. Terima kasih ya Mbak May.. Untuk kostum tampil, setelah kontak sana kontak sini, akhirnya mamak saya yang mencarikan baju bodo di dekat rumah. Meskipun agak kependekan, lumayan lah bisa membuat penampilan sedikit berbeda.

Seminggu sebelum pelaksanaan tes, sebuah email tambahan dari panitia mewajibkan kami menyiapkan bahan presentasi budaya. Untuk bahan presentasi ini, lagi-lagi saya kesulitan menentukan. Mau seperti apa presentasi yang akan saya tampilkan nanti? Saya baru saja mendapat ide, namun sebelum mulai mengerjakan, saya mendapat kabar bahwa saya lolos ke Final dalam seleksi Olimpiade Guru Nasional. Bersamaan dengan itu, saya mendapat panggilan untuk mengikuti pembekalan OGN dari dinas pendidikan Provinsi Jawa Timur, yang pelaksanaannya selama 3 hari, 23-25 April 2018. Nah, persiapan mulai berantakan nih. Saya jadi tidak fokus. Setelah pembekalan OGN, saya akan langsung melanjutkan perjalanan ke Jakarta hingga tanggal 28 April. Berarti, saya akan meninggalkan rumah dan keluarga selama 6 hari. Nah.. saya juga harus memikirkan cucian yang menumpuk dan persiapan bahan makanan selama seminggu untuk anak-anak di rumah. Padahal, saya juga masih harus latihan menyanyi supaya suara saya gak terdengar fals fals amat. Yah, jalani saja satu per satu. Nanti juga semuanya selesai. Meskipun badan dan pikiran harus dipaksa bekerja ekstra keras. Bahan presentasi budaya ini akhirnya hanya saya pikirkan sepanjang pembekalan OGN, dan baru dikerjakan ketika di Jakarta. Gagal fokus semuanya..

Lanjut ke bagian (2) : Pelaksanaan Tes

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Hebat..Salutt deh..Terus berkarya ya mbak santi..saya support dan berdoa untukmu say

17 May
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali