Santi Nurmalahayati

Guru Bimbingan Konseling di SMAN 15 Surabaya. Baru menelurkan satu buku berjudul Guru (Harus) Ke Luar Negeri! yang ditulis berdasarkan pengalaman mengikuti pela...

Selengkapnya
COTO MAKASSAR BUATAN MAMAK

COTO MAKASSAR BUATAN MAMAK

Momen Idul Fitri, selalu memiliki cerita. Karena bercampur dengan budaya Indonesia, Iedul Fitri menjadi identik dengan mudik, ketupat, silaturahmi, hingga ziarah kubur. Buat saya, Iedul Fitri identik dengan coto Makassar buatan mamak. Sejak saya kecil, setiap momen Iedul Fitri, mamak saya yang merantau ke Jakarta sejak awal tahun 70-an mengobati kerinduannya kepada kampung halaman dengan menghadirkan makanan khas Sulawesi Selatan. Biasanya, mamak memasak coto Makassar lengkap dengan burasa, legesek, likua manuk atau ayam sereh, juga kudapan katirisa’la. Namun belakangan, hidangan yang dinanti seluruh penikmatnya hanya coto Makassar. Hidangan lainnya tak lagi dicari.

Coto Makassar adalah hidangan berkuah yang berisi daging dan jeroan yang dipotong dadu. Apa bedanya dengan soto? Kalau soto terbuat dari daging sapi, kalau coto terbuat dari daging capi. Hehehe..begitulah lelucon setiap kali memperkenalkan coto Makassar. Resep coto Makassar buatan mamak saya sangat sederhana. Hanya perlu menambahkan jahe, lengkuas, daun salam, dan sereh ke dalam kaldu sapi. Tak perlu ditumbuk atau dihaluskan, hanya digeprek saja. Untuk membuat kuahnya gurih, ditambahkan kacang tanah goreng yang diblender halus. Agar lebih sedap, bisa juga ditambahkan tauco bersama bubuk kacang. Jangan tanya resepnya, karena semua takaran bumbu hanya dikira-kira berdasarkan feeling seorang koki berpengalaman. Mamak pun tak pernah menambahkan garam, apalagi bumbu penyedap. Garam disajikan di meja bersama sambal tauco yang memberi rasa asin, bawang goreng, kucuran jeruk nipis, dan daun seledri sebagai pelengkap

Meski hanya dengan bumbu yang sederhana, coto Makassar buatan mamak banyak penggemarnya. Selain keluarga kami, saudara-saudara dan tetangga juga banyak yang ketagihan. Awalnya, hidangan ini mulai dikenal oleh tetangga karena budaya saling mengirimkan hidangan lebaran. Karena sebagian besar tetangga menghidangkan ketupat dengan sayur bersantan, opor ayam, rendang atau semur daging, maka coto Makassar buatan mamak yang disajikan dengan burasa (semacam lontong berbentuk pipih yang gurih karena bersantan) menjadi mudah dikenali. Tetangga-tetangga mulai banyak yang suka, termasuk Pak RT. Ketika ada acara makan-makan di lingkungan rumah, pak RT request menu coto Makassar. Akhirnya, makin banyak lah tetangga yang mengenali dan menyukai.

Selain buatan mamak, saya tak pernah tertarik mencicipi coto Makassar yang dijual di gerai makanan. Seumur-umur, baru dua kali mencicipi coto Makassar yang bukan buatan mamak. Pertama, coto Makassar di gerai makanan khas Makassar yang cukup terkenal di daerah Tebet, Jakarta. Kedua kalinya, coto Makassar yang cukup terkenal di dekat rumah tante saya di Makassar. Setelah mencicipi buatan orang lain, makin tak ingin saya mencicipi coto Makassar selain buatan mamak.

Coto Makassar buatan mamak sangat special, karena hanya dibuat pada 2 momen, yakni lebaran dan pernikahan anaknya. Berhubung ke-7 anaknya sudah menikah, maka lebaran adalah satu-satunya momen menikmati coto Makassar buatan mamak. Keluarga inti yang menanti coto Makassar setiap lebaran saja jumlahnya sudah lebih dari 30 orang. Belum saudara-saudara, besan, tetangga, teman, hingga saudaranya tetangga pun turut mencicipi. Setiap kali membuat, ada panci khusus yang biasa mamak gunakan. Kenapa khusus? Karena ukurannya besar sekali. Panci ini sudah setia mewadahi coto Makassar di atas kompor sejak puluhan tahun lalu. Tahun ini, 6 kilo daging dan 2 kilo jeroan sapi berpadu harmonis bersama kuah kacang berbumbu nan gurih dalam panci. Beberapa tahun terakhir, daging sapi untuk coto Makassar disponsori oleh adik saya, yang EO nya selalu kebanjiran job saat Ramadhan.

Jika seluruh anggota keluarga berkumpul, tak menunggu hari berganti, coto Makassar sudah tandas tak bersisa. Jika anggota keluarga banyak yang mudik, menu Coto Makassar bertahan hingga hari kedua, meski tak selengkap awalnya. Buat saya, yang paling nikmat adalah coto Makassar yang dimakan setelah shalat Iedul Fitri. Ada kekuatan magis yang membuat saya sulit menghentikan diri bolak-balik ke meja makan. Setelah porsi pertama, saya akan kembali ke meja makan karena burasa nya habis, tetapi cotonya masih ada. belum lagi habis burasa kedua, cotonya habis. Setelah coto ditambah, sambal tauco, jeruk nipis dan bawang goreng melambai-lambai ingin ikut dimasukkan ke dalam mangkuk. Burasa pun harus ditambah lagi untuk menghabiskan kuah super lezat ini. Begitu terus, sampai saya tak sanggup menjamah hidangan lebaran lain, termasuk kue sagu keju kesukaan saya. Setelah berkunkung ke tetangga, beristirahat, aktivitas di meja makan pun terulang kembali. Dalam sehari lebaran, dua kali makan coto Makassar sudah menyisakan rasa kenyang yang akan awet untuk setahun. Hampir semua anggota keluarga berperilaku sama terhadap Coto makassar setiap lebaran. Itulah yang membuat saya berat sekali melewatkan Iedul Fitri di rumah orangtua di Jakarta.

Beberapa tahun terakhir, coto Makassar tak lagi menjadi otoritas penuh mamak. Kakak perempuan saya, Siti Asyura Indah juga sudah terampil meracik bumbu coto Makassar. Pun, keterampilan mengikat burasa sebelum direbus sudah di-regenerasi-kan kepada kakak dan adik ipar saya. Saya dan para keponakan, cukup puas membantu mengiris daging dan jeroan menjadi potongan-potongan dadu. Mengiris jeruk nipis, seledri, dan membantu menyajikan yang sudah matang di atas meja. Tak lupa, membantu mencuci piring.

Ngomong-ngomong tentang cuci piring, Agatha Christie, penulis novel misteri terkenal itu, biasa mendapat ide menulis dari mencuci piring. Gara-gara coto Makassar buatan mamak, orang-orang yang datang silih berganti mencicipi coto Makassar membuat cucian piring menumpuk dengan cepat. Saya, termasuk spesialis pencuci piring di rumah. Berkat coto Makassar, ide menulis pun mengalir deras. Anggap saja berkah coto Makassar buatan mamak. Mudah-mudahan terus menginspirasi saya menelurkan tulisan demi tulisan. Selamat Lebaran 1348 H, Selamat menikmati kumpul keluarga, Selamat Bercerita.

Perumnas Klender, 25 Juni 2017.

Saat Takbir Masih Berkumandang, sambil menikmati sisa-sisa Coto Makassar.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Mau ya coto makasar mamak. Penasaran nih.

26 Jun
Balas

Hehe..masih ada ini.. monggo mampir..

26 Jun

Bu Santiii. Jadi ingat temanku nih. Tenri abang asal makassar. Jago banget masak cotonya. Lihat image di atas lodahku sdh goyang kanan kiri, Bu.

26 Jun
Balas

Hehe.. alhamdulillah sudah bisa ngiler hanya dari gambarnya. Mampir sini bu, masih ada coto nya..

26 Jun

masakan mama memang tidak ada duanya,ya bu selalu ngangeni

27 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali