Santi Nurmalahayati

Guru Bimbingan Konseling di SMAN 15 Surabaya. Baru menelurkan satu buku berjudul Guru (Harus) Ke Luar Negeri! yang ditulis berdasarkan pengalaman mengikuti pela...

Selengkapnya

CERITA JELANG RAPOTAN

Hari ini rapotan. Semalam, seorang wali murid menghubungi saya via telepon. Awalnya saya abaikan. Agak enggan untuk menerima panggilan saat me time. Celoteh balita saya pasti akan terdengar di seberang. Panggilan kedua akhirnya saya terima. Dari seorang wanita cantik yang putranya menjadi siswa bimbingan saya.

Sebulan lalu, pengusaha salon ini tersedu sedan di ruangan saya. Menyesali kelalaiannya. Putra kebanggannya, tanpa ia sadari, turut menjadi korban konflik rumah tangganya. Putranya yang introvert telah mempercayakan ceritanya kepada saya. Dengan wanti-wanti, jangan beritahu mama saya. Anggap saja ini takdir Allah, sang mama yang terlebih dahulu menghampiri saya. Mungkin ini feeling seorang ibu.

Kisahnya berawal beberapa bulan yang lalu. Si anak beberapa kali tidak masuk sekolah. Awalnya ia mengatakan sakit. Berikutnya, ketika ditanya tentang ketidakhadirannya di kelas, ia menjawab: “Nanti saya ke ruang ibu, akan saya ceritakan alasannya”. Hal ini agak ganjil, siswa lelaki yang sukarela ke ruang BK hanya untuk bercerita. Ia menceritakan langsung, karena ia tidak bisa menyebutkan apakah ketidakhadirannya dikategorikan sakit, izin, atau alpa. Secara fisik ia sehat, namun ia tak kuasa berangkat ke sekolah. Hatinya terlalu cemas, karena ia tahu mama papa nya sedang bertengkar. Sang adik yang berusia 4 tahun juga berada di kamar yang sama. Kejadian sebelumnya, pertengkaran berakhir dengan kekerasan. Sang ibu terluka. Namun yang lebih ia cemaskan adalah, si adik kecil yang terpaksa menyaksikan kejadian itu.

Meskipun ia sudah berseragam lengkap, ia urungkan keberangkatannya. Sebagai anak laki-laki yang sudah beranjak remaja, ia harus tetap disana, untuk melindungi mama dan adiknya. Ia tak menyalahkan sang papa. Ia berdiri di tengah-tengah, menanggung bebannya sendirian. “Papa saya pengusaha yang sangat kaya”, ujarnya. Sehingga banyak perempuan yang menggodanya. “Mama saya yang tidak rasional”, tambahnya. Banyak blackmail masuk ke HP sang mama. Sang mama terprovokasi, cemburu berlebihan, dan menuduh sang suami. Pertengkaran pun tak terelakkan. Begitu kisahnya. Hampir setiap kali sang papa berada di rumah, cerita yang sama terulang kembali. Hari itu, ia berusaha mencegah terjadinya kekerasan. Ia menggedor pintu kamar orangtuanya. Ia ingin mengajak adiknya keluar dari sana. Ia ingin menyelamatkan adiknya dari trauma kekerasan. Ia pun menunjukkan luka di tangannya, akibat kerasnya meninju pintu.

Cerita ini membuat jumlah absennya membengkak. Sulit untuk fokus belajar di kelas. Pikirannya selalu melayang ke rumah. Untuk mengalihkan pikiran, ia menyibukkan dirinya dengan beragam aktivitas. Beruntung, peran di ekstrakurikuler dan OSIS cukup menyita waktunya. Ia mendedikasikan dirinya untuk aktivitas di luar kelas yang melelahkan. Karena duduk diam di kelas membuat kesedihannya memuncak. Walhasil, sedikit sekali pelajaran yang ia kuasai. Hutang tugas dan ulangan pun menumpuk. Ia sudah mengejarnya dengan belajar dini hari. “Saya hanya tidur 3-4 jam sehari”, ujarnya. Namun, tagihan tugas dan remidi terus menghimpitnya.

“Saya sudah give up untuk Perguruan Tinggi Negeri. Saya akan kuliah di Universitas swasta pencetak entrepreneur. Saya ingin segera lulus SMA, kuliah sambil berbisnis, dan mengambil alih pengasuhan adik saya. Kalaupun mama dan papa harus bercerai, saya lah yang akan mengasuh adik saya nanti”, begitu tekadnya. Hati saya pun tergetar. Tak sedikitpun ia menyalahkan kedua orangtuanya. Ia begitu matang, menghadapi masalah dengan tekad kuat untuk masa depan adiknya. Entah orangtuanya berpikir demikian atau tidak.

Saya tetap mengingatkannya, untuk bisa lulus SMA, ia harus naik kelas. Untuk naik kelas, ia harus mengatasi hutang-hutang pelajarannya. Untuk melunasi hutang pelajarannya, ia harus berhadapan dengan guru-guru yang ia anggap sulit. Saya hanya meyakinkannya bahwa ujian sesulit apapun pasti akan bisa ia hadapi. Ia sudah begitu hebat mengatasi masalahnya di rumah, saya pun yakin ia akan mampu menghadapi masalahnya di sekolah. Saya gandengkan ia dengan sang teman, untuk menghadapi kesulitan pelajaran bersama-sama. Saya pantau terus setiap kali berpapasan dengannya. Saya beri penguatan dengan senyum dan gesture penyemangat. Tak perlu banyak bicara. Hingga sehari jelang rapotan, ia masih di sekolah, menyelesaikan kewajibannya.

Telepon sang ibu semalam menanyakan perkembangan putranya. Apakah sang putra mampu menghadapi tantangan kenaikan kelasnya? Meskipun saya tak sempat ikut rapat pleno, saya yakinkan bahwa sang putra berhasil melewati “ujian”nya di sekolah. Sang ibu berterima kasih. Menyampaikan bahwa sang putra berkali-kali menyebutkan nama saya, yang telah membantu menenangkannya. Menurut sang putra, saya berperan dalam menyemangatinya melewati berbagai kesulitan. Pertemuan sang ibu dengan saya sebulan lalu juga telah membuatnya sadar. Sang putra yang terlihat baik-baik saja juga bisa terluka. Bagaimanapun sang putra di sekolah, tanggung jawab orangtua lah mempersiapkannya dari rumah. Alhamdulillah, itulah peran konselor sekolah. Takkan terjadi tanpa kuasa Allah. Allah izinkan saya mengambil hikmah dari kisah ini. Allah menegur sang ibu melalui masalah putranya di sekolah. Allah pula yang izinkan sang ibu memperbaiki dirinya. Saya hanya perantaranya.

Surabaya, 16 Juni 2017

Satu jam jelang rapotan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Guru berada pada posisi yang sulit ya. Urusan keluarga memang menjadi urusan pribadi namun efeknya seringkali menjadi tantangan besar buat guru. Semoga semakin banyak keluarga hormonis sehingga anak-anak tidak dewasa sebelum waktunya.

16 Jun
Balas

Setuju Pak. Guru memang tidak bisa memilih murid spt apa yg didampinginya. Yang terpenting guru bisa membimbingnya dgn sepenuh hati.

17 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali