Santi Nurmalahayati

Guru Bimbingan Konseling di SMAN 15 Surabaya. Baru menelurkan satu buku berjudul Guru (Harus) Ke Luar Negeri! yang ditulis berdasarkan pengalaman mengikuti pela...

Selengkapnya
ALUMNI : SOCIAL CAPITAL SEKOLAH
Ruang Alumni di Busan National Mechanical Technical Highschool

ALUMNI : SOCIAL CAPITAL SEKOLAH

Sebuah catatan dari pengarahan Mendikbud Muhajir Effendi dalam acara sosialisasi kebijakan Dikdasmen banyak beredar di sosial media pada pertengahan Juni 2017. Salah satu poinnya adalah tentang komite sekolah. Mendikbud mengingatkan bahwa komite sekolah seharusnya tidak hanya mengharap peran aktif orangtua peserta didik, tapi juga peran aktif dari alumninya. “Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, Dosen, Guru, atau profesi lain pasti tamat SD. Tapi apa kontribusi, bantuan presiden, gubernur, bupati, walikota, dosen, guru, dan profesi lain terhadap SD tempat dia menamatkan pendidikannya?”, begitu poin Mendikbud. Ya, kontribusi alumni. Sebagai alumni, sudah seberapa besar kita berkontribusi untuk negeri?

Dua tahun terakhir ini, grup-grup alumni di media sosial mulai banyak terbentuk. Senang sekali, bisa berinteraksi kembali dengan teman-teman masa sekolah. Lebih senang lagi, karena banyak teman sekolah yang sudah menjadi hebat di usia yang begitu muda. Namun sayangnya, tak banyak pembicaraan kami sebagai alumni untuk berkontribusi. Baru-baru ini, grup alumni S1 menawarkan sebuah program “Beasiswa Alumni”. Kami, para alumni difasilitasi oleh kampus untuk berkontribusi kepada adik-adik kelas kami. Kaprodi dan dosen penggagasnya adalah teman seangkatan kami. Dana yang terkumpul akan membantu mahasiswa yang kesulitan ekonomi. Program ini mungkin sudah banyak dilakukan di kampus-kampus besar yang alumninya banyak menjadi pejabat negeri. Tapi di tempat kami, ini baru pertama kali. Mudah-mudahan beasiswa alumni bisa menjadi solusi. Menjembatani alumni untuk berkontribusi.

Pada kesempatan liburan beberapa bulan lalu, saya menyempatkan diri mengunjungi SMP tempat saya menimba ilmu dulu. Kunjungan ini berawal dari interaksi saya dan guru kesayangan di media sosial. Kini, kami sama-sama guru. Namun, saya tetap merasa murid ketika berhadapan dengannya. Bu Polzia, guru bahasa Indonesia sekaligus wali saya di kelas 2 SMP mengajak saya mampir ke sekolah sambil bernostalgia. Dalam pertemuan singkat itu, bu Polzia menunjukkan masjid sekolah kami yang sudah rata dengan tanah. “Nur, lihat masjid sekolah kita sedang dibangun. Sampaikan kepada teman-teman seangkatanmu untuk turut menyumbang pembangunan masjid ya..”, begitu beliau berpesan. Sayangnya, dengan teman-teman SMP saya belum banyak terhubung. Tak lucu juga lah kalau tiba-tiba menghubungi teman-teman untuk menyumbang masjid sekolah kami. Memang, tak banyak sekolah yang memandang alumni sebagai social capital yang berharga. Kecuali sekolah-sekolah yang legendaris dan bergengsi, sebagian besar sekolah belum bersinergi dengan para alumni. Begitu pun dengan sekolah tempat saya mengabdi. Alumni-alumni yang reuni hanya mengundang guru-guru yang sempat mengajar mereka. Tapi belum sampai memikirkan bagaimana mereka melakukan sesuatu untuk almamater tercinta. Sekolah pun belum memfasilitasi dengan membuat divisi alumni yang terintegrasi, sehingga kegiatan alumni tak hanya insidental belaka. Bagaimana sebaiknya alumni berkontribusi?

Ingatan saya melayang pada 6 Agustus 2014, saat kunjungan ke sebuah sekolah di Busan, Korea Selatan. Busan National Mechanical Technical HighSchool, SMK Negeri bagian Teknik terbaik di Kota Busan. Dari beberapa sekolah yang sudah saya kunjungi selama di Busan, sekolah inilah yang paling menarik perhatian saya. Saya sungguh terkesan dengan berbagai fasilitas sekolahnya. Tak hanya fasilitas sekolah standar seperti sekolah pada umumnya, SMK ini memiliki beberapa fasilitas yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Fasilitas belajar dan ruang prakteknya saja sudah membuat saya terkagum-kagum, tapi fasilitas lainnya justru membuat saya terheran-heran.

Pertama, Teacher Lounge. Sebelum berkeliling melihat-lihat fasilitas sekolah, kami dipersilakan menikmati teacher lounge. Suasananya, persis seperti kafe. Sebuah taman kecil dan tanaman yang dipajang dengan begitu cantik menyambut kami. Beberapa coffee maker , aneka gula, dan ice maker khusus untuk musim panas yang terik. Pemutar musik dan kumpulan CD serta rak majalah pun tersedia. Meja kursi yang nyaman lengkap dengan stop kontak cukup untuk menampung rombongan kami 20 orang. Dan tentunya, jendela kaca dari lantai 3 memungkinkan kami memandang gedung dan bukit hijau nan cantik di belakang sekolah. Tempat ini disediakan khusus untuk guru beristirahat, menghirup nafas sejenak di sela himpitan tugasnya. Sungguh, fasilitas yang satu ini membuat saya iri.

Fasilitas berikutnya, Career Development Room. Bagi saya, seorang guru BK, fasilitas ini juaauh lebih keren daripada gambaran ruang BK ideal menurut Permen 111/2014 yang bagi sebagian besar sekolah di Indonesia pun masih sulit untuk direalisasikan. Ruang BK ala Busan National Mechanical Technical HighSchool ini benar-benar lengkap. Sebuah ruangan besar dengan meja bak resepsionis menyambut kami. Pelayanan awal dilakukan disini. Siswa dapat mengisi form terlebih dahulu, apa tujuan mereka datang. Di dinding ruangan, terpajang foto-foto siswa yang baru lulus, lengkap dengan daftar di perusahaan mana mereka bekerja. Sebuah rak berisi data siswa tersusun dengan rapi. Karena ini SMK, konselor karir benar-benar berperan dalam mempersiapkan siswanya menghadapi dunia kerja. Sekolah pun memfasilitasinya. Career Development Room memiliki beberapa bagian ruang yang lebih kecil didalamnya. Ada Job Counseling Room, untuk melayani siswa konseling mengenai tujuan kariernya. Ada Workplace Etiquette Training Room, untuk melatih siswa mempraktekkan etika di lingkungan kerja. Ada Resume Writing Room, untuk membekali para siswa menulis lamaran kerja berkualitas. Ada pula sebuah ruang berdinding cermin ganda untuk mengobservasi siswa yang sedang berlatih melakukan wawancara kerja. Lengkap sekali bukan?

Selanjutnya, kami keluar gedung. Sekolah yang konturnya berbukit-bukit ini memiliki beberapa gedung. Tiap gedung memiliki fungsinya masing-masing. Gedung khusus belajar dan gedung khusus praktik berada di tempat terpisah. Salah satu gedung, bernama Ground of Dream. Tempat ini adalah fasilitas khusus untuk para siswa yang sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi kejuruan tingkat internasional. Sekolah ini setiap tahunnya selalu membawa pulang medali dalam World Skill Competition, sebuah kompetisi tingkat dunia untuk menguji keterampilan siswa SMK. Setiap ruangan berukuran sekitar 6 x 6 meter dilengkapi dengan peralatan yang dibutuhkan siswa untuk melatih skill sesuai jurusannya. Disini ada beberapa ruangan. Masing-masing ruangan berdinding kaca untuk tim yang berisi 3-4 orang. Di bagian depan ruangan, terpampang poster besar bergambar foto siswa anggota tim beserta kalimat-kalimat penyemangat. Begitu spesialnya mereka, duta sekolah. Juara dunia memang tidak turun dari langit, namun dilahirkan dari proses panjang dan persiapan yang matang. Tak jauh dari ruangan para calon juara, masih dalam area Ground of Dream, terdapat ruang pamer yang sangat luas. Di tempat inilah sekolah mengapresiasi karya-karya terbaik siswanya. Hasil kreativitas dan inovasi di bidang teknik, yang bisa menjadi cikal-bakal lahirnya teknologi baru di Korea. Ya, banjirnya inovasi teknologi di Korea memang difasilitasi, sejak dini.

Selanjutnya, kami diajak masuk ke sebuah gedung, yang terdiri dari dua ruangan. Kami memasuki ruang pertama di sebelah kiri. Puluhan foto terpajang di dinding. Siapakah mereka? Mereka adalah para alumni. Alumni-alumni yang sudah berhasil di bidangnya masing-masing. Ada yang jenderal, menteri, pengusaha, ilmuwan, dan sebagainya. Beberapa foto alumni juga disertai medali. Medali level dunia yang mereka peroleh selama menjadi siswa, yang turut membanggakan sekolah. Masuk ke dalam lagi, terdapat semacam ruang sejarah. Terpajang foto-foto proses pembangunan sekolah ini sejak tahun 1960-an. Bagaimana setiap bangunan mulai didirikan dengan meratakan bukit, hingga tampak mentereng saat ini. Dipajang pula kata-kata presiden Korea di awal masa pembangunan, tentang visi pendidikan Korea yang mengedepankan pengetahuan dan teknologi. Ternyata, majunya teknologi di Korea merupakan perwujudan visi pendidikan sejak awal kemerdekaan. Tak jauh dari sana, sebuah ruang rapat dengan jumlah kursi yang cukup banyak. Saya bertanya kepada Wakasek Humas yang mendampingi kami : “Untuk apa meja dan kursi ini?”, jawabnya : “Ini adalah ruang alumni, untuk para alumni yang datang dan berdiskusi”. Wah.. spesial sekali. Baru kali ini saya melihat sekolah yang membuatkan ruangan khusus untuk alumni.

Kejutan tak berhenti disitu. Kami diajak menyeberang ke ruangan di sebelah kanan. Wah..itulah respon pertama saya sambil bertanya-tanya. Apa ini..? sebuah ruangan dengan booth-booth bersekat. Tiap booth memajang beberapa produk, foto, dan deskripsi. “Ini adalah perusahaan-perusahaan nasional dan multinasional mitra sekolah, tempat siswa kami magang dan banyak pula yang kemudian bekerja disana. Seluruh perusahaan yang ada disini, CEO dan owner nya adalah alumni kami”, cerita Pak Wakasek bangga. Wah..tambah melongo saya. Kagum luar biasa. Mengagumi sekolah ini, yang telah berhasil mencetak entrepreneur-enterpreneur hebat. Sambil berkeliling, saya menemukan sebuah booth yang berisi foto sejumlah orang berusia paruh baya. Mengapa booth ini berisi foto? Bukan profil perusahaan seperti booth yang lain? Siapa mereka? Saya bertanya-tanya. Lee Sang Jun, penerjemah kami menjelaskan, “di foto ini adalah alumni salah satu angkatan, yang alumni nya sebagian besar sangat sukses. Angkatan ini telah memberikan kontribusi rutin kepada sekolah. Jumlahnya sekitar 2 miliar won setiap tahunnya”. Wah... Tak mampu lagi saya berkata-kata.

Sambil melanjutkan perjalanan melihat-lihat ruangan praktek siswa, saya menjajari langkah pak wakasek untuk mendapat penjelasan. Mengapa alumni mau berkontribusi begitu besar? Pak Wakasek menjelaskan, sumber dana utama sekolah berasal dari pemerintah. Siswa pun membayar biaya SPP, baik untuk biaya pendidikan maupun biaya hidup di asrama. Kontribusi alumni, termasuk dana masyarakat, memang diperbolehkan sepanjang dapat dipertanggungjawabkan. Besarnya kontribusi alumni membuat sekolah leluasa mengatur anggaran. Dengan keleluasaan anggaran lah, sekolah mampu membangun fasilitas terbaik untuk sekolahnya, baik fisik maupun non fisik. Membangun teacher lounge merupakan salah satu cara menyejahterakan guru di sekolah. Jika guru merasa nyaman, maka guru pun akan melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati. Guru yang sejahtera dan fasilitas yang nyaman akan memampukan siswa menampilkan kemampuan terbaiknya. Sekolah yang memiliki prestasi, akan menarik minat calon-calon siswa-siswa yang berkualitas baik. Input siswa yang kualitasnya sudah baik, ditunjang dengan proses pendidikan yang terjamin, akan melahirkan output siswa yang unggul,kreatif, dan inovatif. Output seperti inilah yang akan ditampung oleh perusahaan-perusahaan yang notabene milik alumni atau dipimpin oleh para alumni. Kalau sudah begini, bukankah alumni juga yang akan menarik manfaatnya? Jadi, kontribusi alumni bisa juga dikatakan sebagai investasi. Ayo para alumni, kita berinvestasi untuk negeri.

Surabaya, 17 Juni 2017

Bagian yang pertama selesai untuk Buku Pertama saya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Istimewa. ..top

17 Jun
Balas

Sekolah yang menghargai alumni. Demikian juga alumni yang menghargai sekolahnya. Luar biasa.

17 Jun
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali